Sunday, April 15, 2012

Sang Juara

Di sebuah hentian usang, hujan turun lembut membasahi bumi lalu menempiaskan lukisan alam yang lembap. Aku hanya duduk termangu, bersama lelaki pendiam itu. Masing-masing tekun merinci pada titik-titik yang beritma perlahan. Tiada apa yang diungkapkan. Hanya mengunci. Tetapi aku masih mendengar gelodak kasih dalam jiwa kental lelaki di sebelahku. Berombak kencang dalamannya, tetapi tampak tenang luarannya.

Di saat aku mula melangkah, aku segera mengucup tangannya. Kehangatannya menular. Perlahan-lahan aku mula dihimpit sebak. Saat aku semakin kejauhan, 'bisa' ini semakin tidak tertahan-tahan. Redup pandangan kasihnya, menenangkan. Ukiran senyuman tipisnya, mendambakan. Mana mungkin dapat aku lupakan akan garis-garis tua yang berselirat di wajahnya, pada ketika ini, di saat aku di kejatuhan.

Siapa yang dapat mampu menewaskannya
Abah
Sang juara terulung di dunia
dan akhirat

0 semut-semut: